Pada dasarnya, manusia diciptakan atas dua unsur, yaitu ruh dan tanah. Dua unsur inilah yang akan menentukan kebahagiaan dan kesuksesan manusia di dunia dan akhirat. Coba perhatikan skema berikut:
Tanah > berada di bawah > bersifat fisik > mati > statis > HINA.
Atas dua unsur ini, seseorang mempunyai dua pilihan untuk hidup dan mati HINA atau MULIA. Konsep ini adalah manusia dalam perspektif Ali Syariati.
Berbeda halnya dengan imam Al-Ghazali yang menurut beliau manusia itu terdiri dari empat unsur:
Unsur
|
Jasmani
|
Rohani
|
| Qalbu | Jantung / Shaunaubar | Bersifat ketuhanan Berhubungan dengan hati nurani |
| Akal | Otak | Proses berpikir |
| Ruh | Nyawa | Bersifat indah dan luhur |
| Nafsu | Agresif | Bersifat lembut dan halus |
Dari berbagai unsur yang ada, manusia memiliki unsur yang bisa berbahaya namun tidak terasa yaitu nafsu. Dalam bahasa Arab, nafsu memiliki arti yang bermacam-macam seperti jiwa, diri dan dorongan hati. Namun nafsu yang dimaksud pada pembahasan ini adalah nafsu yang berarti dorongan hati.
Nafsu adalah kecenderungan watak manusia kepada sesuatu sesuai dengan seleranya. Setiap manusia baik mukmin atau kafir, Allah SWT telah meliputi mereka dengan syahwat (hawa nafsu). Hal ini dijelaskan dalam firman-Nya:
"Dijadikan terasa indah pada (pandangan) manusia kecintaan terhadap apa-apa yang diingini, yaitu wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan di dunia; dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga)". (Q.S. Ali Imran: 14)
Nafsu sendiri di dalam Al-Quran terdapat sedikitnya empat macam, diantaranya;
- Nafsu Ammarah, yaitu nafsu yang selalu mendorong seseorang untuk melakukan perbuatan-perbuatan negatif. Hal ini serupa dengan firman Allah SWT dalam Q.S. Yusuf ayat 53: "Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahata, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhan-ku. Sesungguhnya Tuhan-ku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang".
- Nafsu Musawwilah, yaitu nafsu yang dapat menipu atau membohongi hati nurani. Sebagaimana dinyatakan dalam Q.S. Yusuf ayat 18: "Mereka datang membawa baju gamisnya (yang berlumuran) dengan darah palsu. Ya'kub berkata; Sebenarnya dirimu sendirilah yang memandang baik perbuatan (yang buruk) itu, maka kesabaran yang baik itulah (kesabaranku). Dan Allah sajalah yang dimohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kamu ceritakan".
- Nafsu Lawwamah, yaitu nafsu yang dapat membuat seseorang menyesali perbuatan yang telah dilakukannya. Seperti firman Allah: "dan aku bersumpah dengan jiwa yang amat menyesali (dirinya sendiri)". (Q.S. Al-Qiyamah:2)
- Nafsu Muthmainnah, yaitu jiwa yang tenang atau stabil. Maksudnya ialah nafsu yang mendorong seseorang untuk berbuat kebajikan. Hal ini diungkapkan oleh Allah SWT dalam Q.S. Al-Fajr ayat 27-28: "Wahai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhan-mu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya".
Nafsu-nafsu inilah yang akan meliputi hati seseorang dan akan menentukan sifat dan karakter dalam kesehariannya. Ini semua tergantung pada seseorang dalam menyikapi nafsu tersebut.
Hawa nafsu itu terkadang menyuruh untuk berbuat maksiat, berlaku baik terhadap diri sendiri dan orang lain, serta menstabilkan keinginan yang semuanya disesuaikan dengan situasi dan kondisi seseorang. Semua ini tergantung pada setiap masing-masing individu. Apabila ia menuruti nafsu yang mengarah pada kejelekan, maka ia pun akan mendapatkan hal-hal yang jelek. Sedangkan jika ia tidak menurutinya dan selalu menuruti setiap keinginan untuk beramal shaleh, maka ia pun akan mendapatkan hasil yang baik, berguna dan bermanfaat bagi dirinya sendiri maupun orang lain.
Dengan membaca dan memahami akan hakikat nafsu ini, setidaknya membuka pandangan kita terhadap kondisi zaman pada saat ini. Contoh kasus seperti perampokan, pemerkosaan, pembunuhan, dan masih banyak lagi hal-hal yang disebabkan karena mengikuti hawa nafsu syaithan.
Contoh kasus yang lain seperti korupsi misalnya, berapapun dan sebesar apa pun gaji yang diterima oleh pejabat ternyata itu belum cukup. Sehingga tidak sedikit para pejabat yang korupsi. Budaya korupsi juga tidak hanya terdapat pada orang-orang golongan menengah keatas. Akan tetapi dari golongan menengah kebawah pun kiranya korupsi merupakan sebuah kebutuhan. Contohnya saja ketika seorang pengusaha besar membagikan zakat atau shadaqah kepada para dhu'afa, tidak sedikit para dhu'afa yang mengambil bagian lebih atau bukan haknya, padahal mereka sudah mendapatkan bagiannya masing-masing. Apakah ini bukan korupsi?!
Maka wajar saja jika para pejabat korupsi, karena budaya korupsi juga ternyata telah memasyarakat. Bahkan telah tertanam sejak kita dan mereka masih kecil.
Dr. Muhammad Quraish Shihab (Mizan, 2008) menyatakan: Penguasa atau pemimpin itu adalah cerminan dari keadaan masyarakat.
- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
*Dari berbagai sumber

0 komentar :
Posting Komentar