Sabtu, 10 Maret 2012

Posted by Iqsas Ahmad Nurguslanda On 11:33:00 AM
Mukjizat Al-Qur’an

Secara bahasa, i’jâz (kemukjizatan) adalah menetapkan kelemahan. Kelemahan dalam pengertian umum ialah ketidakmampuan mengerjakan sesuatu. Dan mu’jizat secara istilah adalah sesuatu yang dapat melemahkan, sehingga orang lain tidak dapat membuat hal yang sama atau melebihi.[1]
Setiap Rasul yang diutus oleh Allah Swt. memiliki mukjizat tersendiri. Mukjizat tersebut rata-rata berupa suatu hal yang bersifat fisik dan dapat dilihat oleh mata telanjang. Pada masa Nabi Musa As. berkembang ilmu sihir dikalangan masyarakat, seperti tali menjadi ular. Nabi Musa As. tampil dengan mukjizatnya merubah tongkat menjadi ular yang dapat mengalahkan sihir-sihir lainnya. Pada masa Nabi Isa As. berkembang perdukunan dan pengobatan, seperti mengobati berbagai penyakit yang dialami masyarakat pada saat itu. Namun, tidak ada seorang pun yang dapat mengobati buta dan kusta. Nabi Isa As. dengan izin Allah Swt. dapat menyembuhkan buta dan kusta.
Pada masa Nabi Muhammad Saw. diutus, masyarakat selalu berbangga dengan kemampuan bersyair dengan keindahan bahasa yang dikompetisikan secara berkala. Nabi Muhammad Saw. tampil dengan Al-Qur’an yang keindahan bahasanya tidak dapat ditandingi oleh siapapun.
Memperhatikan beberapa contoh mukjizat di atas, maka I’jâz yang dimaksud dalam pembahasan ini adalah menampakan kebenaran Nabi Muhammad Saw. sebagai Rasul yang diutus dengan memperlihatkan kelemahan orang-orang Arab dalam menghadapi Al-Qur’an.
Mukjizat Al-Qur’an terdapat pada kumpulan lafazh dan makna yang terkandung di dalamnya. Al-Qur’an memiliki keluarbiasaan yang secara akal tidak mungkin dibuat oleh manusia. Hal ini menunjukkan bahwa Al-Qur’an berasal dari Tuhan Semesta Alam, bukan dari manusia atau jin. Bentuk-bentuk kemukjizatan Al-Qur’an di antaranya adalah:
1.      Keindahan bahasa yang mengalahkan keindahan syair bangsa Arab. Allah Swt. menantang kepada orang-orang yang meragukan kebenaran Al-Qur’an dengan memintanya untuk membuat yang serupa dengan Al-Qur’an, sepuluh surat atau bahkan satu surat saja. Tetapi Allah Swt. menyatakan bahwa seluruh manusia tidak sanggup untuk membuat yang serupa dengan Al-Qur’an –walaupun satu surat saja- meskipun bergabung dengan jin. Dalam hal ini Allah Swt. berfirman:

 “Katakanlah: Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Al-Qur’an ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan dia, sekalipun sebagian mereka menjadi sebagian yang lain.” (Q.S. Al-Isrâ: 88)

2.      Pemberitaan Al-Qur’an tentang suatu peristiwa di masa yang akan datang dan peristiwa tersebut benar-benar terjadi. Sebagaimana firman Allah Swt.:

“Alif Lâm Mîm. Telah dikalahkan bangsa Romawi. Di negeri yang terdekat dan mereka sesudah itu akan menang. Dalam beberapa tahun (lagi). Bagi Allah-lah urusan sebelum dan sesudah (mereka menang). Dan di hari (kemerdekaan bangsa Romawi) itu bergembiralah orang-orang yang beriman.” (Q.S. Ar-Rum: 1-4)

3.      Isyarat Al-Qur’an terhadap ilmu pengetahuan yang berkembang pada masa ini dan tidak diketahui pada masa sebelumnya. Sebagaimana firman-Nya:

 “Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasannya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?.” (Q.S. Al-Anbiya`: 30)


[1] Prof. Dr. H. Amir Syarifuddin, Ushul Fiqh, Jilid 1, PT Logos Wacana Ilmu, Ciputat,  cet. II, 2000, hal. 62.

0 komentar :

Posting Komentar