Mukjizat Al-Qur’an
Secara bahasa, i’jâz (kemukjizatan) adalah
menetapkan kelemahan. Kelemahan dalam pengertian umum ialah ketidakmampuan
mengerjakan sesuatu. Dan mu’jizat secara istilah adalah sesuatu yang
dapat melemahkan, sehingga orang lain tidak dapat membuat hal yang sama atau
melebihi.[1]
Setiap Rasul yang diutus oleh Allah Swt. memiliki
mukjizat tersendiri. Mukjizat tersebut rata-rata berupa suatu hal yang bersifat
fisik dan dapat dilihat oleh mata telanjang. Pada masa Nabi Musa As. berkembang
ilmu sihir dikalangan masyarakat, seperti tali menjadi ular. Nabi Musa As.
tampil dengan mukjizatnya merubah tongkat menjadi ular yang dapat mengalahkan
sihir-sihir lainnya. Pada masa Nabi Isa As. berkembang perdukunan dan pengobatan,
seperti mengobati berbagai penyakit yang dialami masyarakat pada saat itu.
Namun, tidak ada seorang pun yang dapat mengobati buta dan kusta. Nabi Isa As.
dengan izin Allah Swt. dapat menyembuhkan buta dan kusta.
Pada masa Nabi Muhammad Saw. diutus, masyarakat
selalu berbangga dengan kemampuan bersyair dengan keindahan bahasa yang
dikompetisikan secara berkala. Nabi Muhammad Saw. tampil dengan Al-Qur’an yang
keindahan bahasanya tidak dapat ditandingi oleh siapapun.
Memperhatikan beberapa contoh mukjizat di atas, maka I’jâz
yang dimaksud dalam pembahasan ini adalah menampakan kebenaran Nabi Muhammad
Saw. sebagai Rasul yang diutus dengan memperlihatkan kelemahan orang-orang Arab
dalam menghadapi Al-Qur’an.
Mukjizat Al-Qur’an terdapat pada kumpulan lafazh
dan makna yang terkandung di dalamnya. Al-Qur’an memiliki keluarbiasaan yang
secara akal tidak mungkin dibuat oleh manusia. Hal ini menunjukkan bahwa
Al-Qur’an berasal dari Tuhan Semesta Alam, bukan dari manusia atau jin.
Bentuk-bentuk kemukjizatan Al-Qur’an di antaranya adalah:
1.
Keindahan
bahasa yang mengalahkan keindahan syair bangsa Arab. Allah Swt. menantang
kepada orang-orang yang meragukan kebenaran Al-Qur’an dengan memintanya untuk
membuat yang serupa dengan Al-Qur’an, sepuluh surat
atau bahkan satu surat
saja. Tetapi Allah Swt. menyatakan bahwa seluruh manusia tidak sanggup untuk
membuat yang serupa dengan Al-Qur’an –walaupun satu surat saja- meskipun bergabung dengan jin.
Dalam hal ini Allah Swt. berfirman:
“Katakanlah:
Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Al-Qur’an
ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan dia, sekalipun
sebagian mereka menjadi sebagian yang lain.” (Q.S. Al-Isrâ: 88)
2.
Pemberitaan
Al-Qur’an tentang suatu peristiwa di masa yang akan datang dan peristiwa
tersebut benar-benar terjadi. Sebagaimana firman Allah Swt.:
“Alif Lâm Mîm. Telah dikalahkan
bangsa Romawi. Di negeri yang terdekat dan mereka sesudah itu akan menang.
Dalam beberapa tahun (lagi). Bagi Allah-lah urusan sebelum dan sesudah (mereka
menang). Dan di hari (kemerdekaan bangsa Romawi) itu bergembiralah orang-orang
yang beriman.” (Q.S. Ar-Rum: 1-4)
3.
Isyarat
Al-Qur’an terhadap ilmu pengetahuan yang berkembang pada masa ini dan tidak
diketahui pada masa sebelumnya. Sebagaimana firman-Nya:
“Dan apakah
orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasannya langit dan bumi itu
keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya.
Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka
tiada juga beriman?.” (Q.S.
Al-Anbiya`: 30)
[1] Prof. Dr. H. Amir Syarifuddin, Ushul Fiqh,
Jilid 1, PT Logos Wacana Ilmu, Ciputat,
cet. II, 2000, hal. 62.
0 komentar :
Posting Komentar